"It's only through writing that I've ever been able to suppress life's personal disappointments. When I can't write I feel anxious and out of sorts and am easily riled, though I'm usually able to control my emotions..."
- Pramoedya Ananta Toer (The Mute's Soliloquy: A Memoir)
["Hanya dengan menulis aku mampu menekan segala kekecewaan peribadi hidup. Bila aku tidak menulis, aku merasa cemas & tidak keruan serta mudah gusar, walau selalunya aku bisa mengawal emosiku..."]

Thursday, February 14, 2013

2 TAHUN LAGI MENUJU 40

Menurut kalendar Islam, saya sudah pun berusia 38 tahun pada 14hb. Disember 2012 (1 Safar 1434) yang lalu. Kerana ikut perhitungan sebenar (menurut arwah emak), saya dilahirkan pada hari Khamis (13hb. Februari 1975) di waktu Maghrib (1 Safar 1395) dan diraikan pada keesokan harinya setiap tahun iaitu hari ini, 14hb. Februari 2013. Namun tidak kiralah semalam atau hari ini tarikh kelahiran saya, menjelang malam semalam dan hari ini memberi kelebihan usia saya pada hari selanjutnya. 

Ya, begitulah usia kita yang akan terus berlanjut sehingga ajal menjemput tanpa mengira waktu dan usia. Selagi hidup dapat melayut ke tua, bersyukurlah dipanjangkan usia kita untuk terus menabur bakti dan usaha di mukabumi ini. Sudah hampir 4 dekad saya melayari hidup, sudah menikmati segala bagai rasa dan segala macam perhubungan. Melihat diri meninggalkan dan ditinggalkan, yang lain terpisah dan diceraikan. Sudah merasa indahnya meraih impian dan perit jatuhnya tanpa perasaan. Sudah melepasi benteng ujian menghadapi kematian ibu yang tercinta dengan sabar dan tabah. Meredhai pemergian bapa tanpa setitis pun rasa dendam dan kecewa. Semua pengalaman itu memberi saya keyakinan tidak berbelah bagi bahawa Yang Maha Esa punya aturan yang pasti buat hidup kita. Jalani ia tanpa ada rasa paksa, nikmati setiap anugerah yang ada sebaik menjaga hati kita. 

Soal peribadi itu rahsia saya, tujuan saya hanya pada karier dan masa depan keluarga yang berkait rapat dalam membantu kemajuan saya. Esok belum tentu menjanjikan bahagia dan hari ini belum tentu kecewa, namun semalam tetap panduan berguna baik buruknya. 

Bagi saya mencecah usia 38 tahun tidak banyak menguja perasaan saya kecuali tahun 2013 bakal menjanjikan yang terbaik buat permulaan baru saya di dalam Industri Komik Malaysia. Tidak dinafikan saya sedang menyaksikan anak-anak muda mengorak langkah mereka untuk mencorak industri ini agar lebih terbina. Saya berharap mereka tidak mudah melatah dengan kekecewaan dan saya akan masih terus bersaing bersama mereka. 

Sebenarnya memang semenjak kecil dalam mengatur hidup, saya berdoa untuk mencapai usia 40 (insha-Allah... ) dengan permulaan hidup yang lebih bermakna dengan bakat yang saya ada. Justeru, 2 tahun sebelum mencecah ke usia itu adalah tempoh saya kena berusaha sehabis baik bagi melunaskan impian seterusnya. Tiada yang mudah dalam menimba usaha, apatah lagi menggapai impian. Namun saya pernah lakukannya dan berjaya, kini saya ingin lakukan lagi agar lebih berjaya. Cuma lainnya kali ini, ramai sudah kenal siapa saya dan jika saya gagal pasti malu besar maka saya harus tabah menerima apa jua sindiran apatah lagi kasihan dalam rasa penuh kesyukuran pada ujian-Nya. Namun jika berjaya, saya harus sentiasa beringat pada diri untuk sentiasa memanjatkan kesyukuran kepada Yang Maha Berkuasa dan menjaga harta pada zakatnya. 

Tiada permulaan usia yang sempurna untuk berjaya dengan usaha, jatuh bangun boleh berlaku pada bila-bila masa. Selagi ada nyawa dan tenaga masih berlipat ganda, saya tidak mahu mempersia-siakan apa yang Tuhan berikan kepada saya hanya kerana terpaksa mengikut norma sosial setempat. Perubahan harus ada lebih-lebih lagi dalam mengukur usia pada usaha. Oleh itu, percayalah kepada yang sedang membaca bahawa saya tetap saya...

"Menimba ilmu itu sangat penting untuk merancang pengalaman hidup yang lebih berguna. Mencari pengalaman tanpa menimba ilmu seolah menggali tanah di dasar laut, silap lemas tanah tertimbus masa depan pun kabut."

Punya bakat namun jika tidak diuruskan dengan betul samada oleh diri sendiri mahupun mereka yang boleh dipercayai, tetap terkubur juga bakat itu. Maka kerana itu saya tidak mahu tamak dengan bakat yang saya ada. Asal mampu ia terjaga oleh saya dan mereka yang saya boleh percaya, insha-Allah akan saya cuba usahakan mana terdaya agar ia mampu menjamin masa depan saya dan membuka peluang pada yang lainnya. 


 Akhir kata, jangan mudah berprasangka pada usia berbanding paras rupa, kerana terus-terang saya tidak mudah terhakis dengan sindiran apatah lagi cemuhan, dan tidak mudah terpikat pada pujian. Saya pernah menjadi anak muda yang ingin berjaya dalam apa yang saya cita dengan bersaing bersama mereka yang lebih dewasa dan berjaya dalam industri yang sama. Hari ini anak muda harus tegar untuk berjaya dengan bersaing bersama mereka yang lebih dewasa kerana fokus kita harus ke hadapan. Semoga kita mencecah usia yang lebih bermakna pada usaha yang kekal berjaya.
"Binalah keyakinan dengan sopan diri dan santun bahasa, biar nampak lemah tapi gagah berdikari. Jangan bina keyakinan dengan lagak sombong dan bangga diri, walau nampak gagah tapi lemah kendiri."

Wednesday, January 30, 2013

CUPID'S STORY: TORN BETWEEN THREE LOVERS

"Beauty of a relationship is when two made a pact that only both knew so much than anyone else could see. It's the mutual victory of an affair which life kept secret of love so pure that the world bears in silence. Nothing last forever, not even a tale that break the ice of golden shibboleth. But what has been written in heaven for two to uphold, as bond kept secret, is hell washed away by truth of heart which has been given in honesty."
::: The real sound that echoed only in silence

CUPID: Rather than you choose someone younger, witty but less convincing with so many guessing games, why don't you choose someone older with similar quality; same age or older but more convincing. In this game you won't lose a thing. Both sparked undeniably true love. But the young one will waste your time compared to the wiser one... so what is your say?

FELICITY: As long I know I'm foolishly in love with him...

CUPID: Well... aren't you leaving the young love because you're chasing the wiser one that now caused the young one in doubt with you?

FELICITY: True... but many things that happened always lead me to the young one.

CUPID: That's what we call fate. You're meant to be with the young one. But that doesn't mean you cannot be in love with the wiser one. The young one maybe not the one you're going to hold in your arms, but at least he's at your pedestal.

FELICITY: I don't think the wiser one will have me too.

CUPID: Therefore, run for your life to the one that has been waiting you for so many years...

FELICITY: Him? The one that's always on the line?

CUPID: Exactly.

FELICITY: But I haven't met him... but he's always there on the line whenever I need comfort. He believes in me though we never meet in person.

CUPID: But you know everything about him, right?

FELICITY: Not everything, only parts that he told me.

CUPID: Have you ever doubt him even once?

FELICITY: .... (thinking for a while)... thought of that, surprisingly close to never.

CUPID: Therefore chase him before someone holds you back. A friendship without doubt will leads to the most faithful love relationship. As far I know, he's far older than any those two. Far better, he's a teacher who has been teaching not only for his country but also for other people's country. He's maybe not as handsome as those two witty men to fit your beauty, but he's not as fool as those handsome men you're waiting for happiness.

FELICITY: But what if I'm wrong...? What if these two men were never in doubt with me? What if they are just...

CUPID: No... they put you in doubt. That's not good my dear. No regret. Chase this guy you haven't met. These two men you've met and love, they're just your past to make you see clearly the way to the teacher.

FELICITY: How can you be so sure?

CUPID: Because I am a cupid. My kind don't waste human time to make them fall in love.

FELICITY: Meaning?

CUPID: I shot 3 arrows to your heart... you're in love with the all three. But I know you... so in return I shot an arrow to each of their heart, and that arrows meant for you. But to realize a dream, you need efforts! Seems you have more than an arrow, THAT has made you a star. A star is a gift, therefore they need to prove to you their love rather than making you in doubt. Because your efforts are to the people, in return their efforts are supposed to you, for the people. But they knew less. Yet for the teacher, I believe he's different. He's the moon that shines the star; you. So go to him before someone else ready to play as your moon.

FELICITY: I'm in doubt...

CUPID: Which part?

FELICITY: I haven't met him!

CUPID: You will... just put an effort and you will. Look at those two you're right now in love, have you ever met them before?

FELICITY: No...

CUPID: You met them, only then you're in love, right?

FELICITY: Yes...

CUPID: How about this teacher?

FELICITY: I love him before I even met him.

CUPID: You get my point?

Suddenly a smile so wide, a face so bright, shines like the most beautiful star that you have never seen twinkling in the dark sky. Though there's no moon to be found, must be the moon has lighten up the star from somewhere else unseen...
Felicity belonged... THE END.

'Be Alright' original by Justin Bieber (Believe) | music by LynnSchaefferMusic

Thursday, January 10, 2013

DI SEBALIK PEMBIKINAN 'KAYANGAN DEWIKU'


Pada tahun 2007, saya begitu menghayati sebuah lagu Cina berjudul 'Tong Hua' (童话) yang dicipta & dinyanyikan sendiri oleh Michael Wong (aka Guang Liang), seorang artis Malaysia yang ketika itu sedang meningkat naik di serata Asia. Titipan melodi, cara penyampaian & maksud liriknya sangat menyentuh hati saya. Kemudian saya dengar versi Melayu yang dinyanyikan oleh Aliff Aziz berjudul 'Cinta Arjuna', namun bait liriknya (secara peribadi) saya rasakan tidak selari dengan melodi apatah lagi lari tema dengan versi asalnya. Terus saya termampan untuk mencipta lirik saya sendiri berjudul 'Kayangan Dewiku' dan inilah hasilnya...

Daku berkata di hati ini
Tiada cinta terindah bagiku
Aku memberi sepenuh jiwa
Tanpa meragui segala yang lara
Kau amat kucinta
Dewi kayangan mengapa
tak ku kenang dirimu sama
Mimpiku bermuram
Tika saat kuhiba
Kau menghilang dari pandangan
Ku impikan kayangan dewiku yang dirindu
Jangankan kau mungkiri janji ini
Percayalah
Kau memori cintaku terabadi
Sang bayu riang selalu

Kemudian selepas pemergian arwah ibu saya pada akhir Ogos 2009, hampir 3 bulan kemudian saya berazam untuk kembali melukis karya komik pendek terbaru untuk diterbitkan dalam majalah GEMPAK™. Masih terpengaruh dengan keistimewaan 'Tong Hua' & ingin mengeksploitasikan bait lirik yang saya cipta pada tahun 2007, maka terciptalah komik 12 mukasurat berjudul 'Kayangan Dewiku'. Ketika itu saya sedang sibuk menyunting koleksi karya-karya cerpen 'Pentas Realiti' saya yang dibukukan berjudul 'Pentas Realiti: Aspirasi Seni' untuk terbitan akhir tahun tersebut. 'Kayangan Dewiku' menjadi karya komik pendek pertama saya yang diterbitkan pada tahun 2010 khusus buat para pembaca majalah GEMPAK™, & yang pertama saya toning sendiri selepas 'Pentas Realiti: Aspirasi Seni'.

SAYA SELEPAS 'PENTAS REALITI: ASPIRASI SENI'

Ketika dalam pembikinan komik ini, saya telah menyelitkan bait lirik yang saya cipta itu sebagai puisi yang tercatat di dalamnya. Kepada sesiapa yang pernah memiliki isu majalah GEMPAK™ dimana komik ini diterbitkan pasti pernah terbaca puisi tersebut. 

12 M/SURAT KOMIK - 'KAYANGAN DEWIKU'

Untuk pengetahuan, saya telah menyanyi & merakamkan sendiri bait puisi tersebut sebagai lirik lagu mengikut melodi asalnya (versi piano) pada awal tahun 2010 & telah berlatih menyanyikannya ketika proses meyiapkan komiknya pada November 2009. Namun ketika itu saya tidak cukup yakin untuk berkongsi hasilnya (kerana di hujung lagu tiada penyudah yang dirasa sempurna). Namun hari ini, saya rasa ia sudah boleh didengar seadanya...

Vokal dirakam pada Jan 2010, disunting semula (dengan bacaan puisi) pada Jan 2013 | Lagu asal berjudul 'Tong Hua' oleh Guang Liang (aka Michael Wong) | music by (-TBA-)

Tuesday, January 1, 2013

SELAMAT TAHUN BARU 2013

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
& Salam Sejahtera...

Wahai taulan,

Tidak dinafikan kenyataan hidup bahawa setiap insan di dunia ini tidak menjadi semakin muda, namun itu bukan bererti kita semakin teruk dalam mengawal emosi. Malah menjadi semakin tua juga bukan bermaksud kita semakin azab dalam menjaga mental dan fizikal. Semua itu mainan psikologi yang cuba melemahkan kemampuan individu daripada terus melaksanakan tanggungjawabnya di dalam daya diri yang semakin malas. Itu semua cara manusia berpegang pada prinsip usia untuk bermain dengan pelbagai alasan agar anak muda yang melakukan semua kerja, sedangkan yang lebih dewasa mula mencari jalan melepaskan batuk di tangga.

Dewasa belum pasti berpengalaman
Usia bukan pengukur kematangan
Muda tidak semestinya kecemerlangan
Bila jati diri kejayaan ilmu & pengetahuan

Ketepikan soal berpenyakit kerana ada manusia yang sakit juga masih gagah mengawal diri, malah ada yang abnormal psikologi lebih gigih daripada yang normal psikologi. Sebagai peringatan untuk diri sendiri, cabaran hidup tidak akan pernah berhenti. Ada waktunya kita akan lelah melayan kerenah keadaan hingga membuatkan kita lebih senang berdiam diri dan mencari jalan sendiri. Tetapi itu tidak bermaksud kita mengundurkan diri, tidak bagi jiwa yang degil dan tidak mudah dipatahkan oleh caci serta dengki. Jika ada banyak kata-kata nista yang cuba melunturkan semangat kita untuk terus maju, masih ada banyak lagi kata-kata motivasi yang mampu menggerakkan kita untuk lebih cemerlang. Pandai-pandailah membawa diri, jangan terlalu manja dengan perhatian kerana bimbang kesudahannya kita senang dipermainkan. Tidak dinafikan bila di satu tahap kemajuan, ada dalang pembelotan sedang bermain di belakang kita di atas nama 'gila kuasa'. Ketika itu, jangan mudah melatah sebaliknya lakukan yang terbaik untuk memperbaikinya tetapi bukan dengan jalan 'gila kuasa' juga, sebaliknya 'waras kuasa'.

Setiap manusia pengalaman hidupnya berbeza, maka jalannya untuk berjaya juga berbeza. Ada yang berjaya dalam sekelip mata, esok tersandung mengemis di kaki lima. Ada yang berjaya terus berjaya, namun kita tidak tahu rahsia likunya untuk terus kekal berjaya. Ada yang berjaya tiba-tiba senyap entah ke mana, tidak perlu berfikir yang menggila kerana mungkin masanya menggali hasrat yang tertimba.

Hakikatnya, kita tidak mampu mengubah siapa diri kita. Jika ada yang berkata "Mampu!", itu semua pembohong kerana yang bersakit mental dengan personaliti berbeza-beza pun tidak mampu mengubah dirinya menjadi satu personaliti. Apatah lagi pelakon yang melakonkan watak yang berbeza-beza, keluar lokasi akan tetap menjadi seperti dirinya. Namun kita mampu mengubah apa diri kita, seorang pelakon kepada penyanyi, seorang pendakyah kepada pendakwah, seorang pengembara kepada pengembala, dan selainnya. Kita juga mampu mengubah di mana dan bila kita berada. Kita mampu mengubah kedudukan kita daripada rumah kecil ke rumah besar, dari duit sedikit ke duit banyak, bertubuh kecil ke tubuh besar dan begitulah sebaliknya!

Percayalah Taulan...

Siapa diri kita semalam tidak akan mudah kita lupakan dengan akal yang masih sihat dan waras. Kerana apa yang berlaku kepada kita kelmarin membentuk diri kita hari ini. Ada yang terus hanyut di bawa perasaan, ada yang melawan menentang arus perasaan. Itu semua asam garam kemanusiaan, yang pasti kita harus menikmati setiap keyakinan dengan keberanian. Ada pilihan yang terpaksa kita ketepikan dan ada kehadiran yang perlu kita raikan. Itu semua bergantung kepada nilai diri kita menghadapinya. Ada manusia yang tersilap membuat pilihan hingga berantakan, berbunuh-bunuhan dan malah ada yang gila tersepit dalam pelbagai pilihan. Malah ada manusia yang terperangkap dengan perasaan orang lain, dijerat lalu tidak berani melawan melepaskan diri. Apapun perkiraan tidak kira siapa mangsa dan pemangsa, itu semua kemelut pilihan yang hanyut dalam perasaan!

"Cinta itu bukan pilihan bila ia hadir dalam diri, namun ia pilihan untuk berdiri di sisi atau biarkan ia bebas berlari."

Jangan terlalu memikirkan pelbagai kemungkinan yang akan berlaku di masa hadapan jika kita ingin melakukan perancangan di hari ini. Itu semua permainan perasaan, hasutan syaitan yang ingin melihat kita berputus asa sebelum mencuba. Teruskan berazam, teruskan merancang! Jangan bimbang duit berceceran di tepi jalan kerana masih ada banyak lagi duit di tangan insan-insan yang simpati memberi bantuan. Usah khuatir berlari berbatu jauhnya daripada mengejar masa dengan memandu kemewahan beribu batu namun masih leka dalam kelajuan nafsu. Jangan difikirkan sangat soal darjat kerana walau kaki menjejak ke bendang bernajis kerbau pun akan tetap terus dihormati jika niatnya ikhlas. 

Biarpun hidup ini hanya sementara namun di dunia ini, yang sementara itu jugalah segelintiran jadikan bekalan kebahagiaan. Teguklah arak berbotol-botol untuk melupakan perasaan, menyedut asap berkepul-kepul bagi melegakan tekanan dan mengambil dadah berbiji-biji demi membina keyakinan, semua itu tetap bukan kesudahannya jika jati diri tidak mampu mengawal perasaan. Caci dan makilah kerana dendam, kebenaran atau kealpaan kerana caci dan makian itulah yang membawa kejayaan mutlak kepada yang dihamburkan. Laungkanlah apapun sentimen yang bersifat sementara, kesudahannya jangka panjang juga pendidikan yang membawa kepada pengawalan diri.

1st January 2013... the same old me feelin' brand new!

Justeru Taulan...

Nama saya Fakhrul Anour, saya juga manusia biasa seperti kalian yang ada waktunya lalai dalam membuat keputusan. Namun tidak pernah saya gagal untuk tanamkan azam demi merancang menjadi yang lebih maju di masa akan datang. Ada yang berjaya tertunai, ada yang gagal tidak menjadi dan ada yang tertunggak dibawa ke hadapan. Yang penting kita jangan pernah berputus asa, kerana nilai kehidupan walaupun bersifat sementara bukan tanda kita kena melepaskan peluang yang ada selagi jantung berdegup. Menjangkakan waktunya kita akan mati dan dunia bakal kiamat, itu semua kerja Tuhan dan kita sebagai hamba-Nya hanya perlu menyemai dan menuai di bumi ini mengikut keupayaan serta kemahiran yang dianugerahkan kepada kita. Jangan dibazirkan benih-benih bakat yang ada, kerana dalam banyak limpahan itu pasti terselit jika tidak lebih sekurangnya satu yang bakal  menyinar membentuk segala kebenaran dan tidak mustahil mengajak kepada segala kebaikan; dalam cahaya keimanan melakar riang di kesenian duniawi. Oleh itu teruslah berazam, jika tidak untuk diri kita mungkin untuk generasi yang bakal datang dalam mengimpikan perkara sama yang kita pernah ada. Persiapkan bendang untuk mereka menyambung tradisi kita menyemai dan menuai dalam mengusahakan bakat yang kita tinggalkan. Industri Komik Malaysia tetap impian saya untuk menyemai dan menuai azam yang ada. Semoga usaha akan terus dihargai bersama... insha-Allah. ^_^

SELAMAT TAHUN BARU 2013... Industri Komik Malaysia!!!

***************
 To my yesterdays,

careful with your ego
he's the one that we should blame
had to grab my heart back
God knows something had to change
I thought that you'd be happy
I found the one thing I need
why you mad?
it's just a brand new kinda me
    
'Brand New Me' original by Alicia Keys (Girl On Fire) | music by The10thCloud

Tuesday, October 23, 2012

My postmortem: 24 Hour Comics Day 2012


Tidak dinafikan produktiviti saya sebagai artis komik Malaysia masih belum ditahap cemerlang, malah saya perakui keupayaan saya untuk kerap menghasilkan karya masih belum teruji ditahap yang memberangsangkan. Sejak melepaskan jawatan sebagai ketua pengarang di Art Square Group (Gempak Starz™) pada Jun 2010 & sehingga kini menjadi artis komik bebas sepenuh masa di bawah naungan penerbitan tersebut, tidak menjanjikan usaha saya berlipat ganda dalam berkarya. Apatah lagi sejak menyambung pengajian dalam jurusan sarjana perniagaan (MBA) di Universiti Islam Antarabangsa.   

"Daya tanpa motivasi hanyalah gigih di bayangan semata..."

Program '24 Hour Comics Day' tidak asing dipengetahuan saya kerana semasa masih menjadi ketua pengarang di Gempak Starz™, beberapa rakan artis komik sudah menyertainya. Namun saya tidak pernah berpeluang kerana peruntukan masa yang tidak pernah sesuai untuk turut serta. Lalu baru-baru ini saya tidak mahu lagi beralasan, asa saya perlu ditempa kuat & apabila senior industri, Sarah Joan Mokhtar mengesyorkan saya menyertainya, saya berjanji akan memberi kata putus sehari selepas mengendalikan bengkel melukis komik di sekolah Sri Nobel International.

Seperti yang telah terbukti, saya telah menyertai program ini. Walaupun tidak berjaya menyiapkan 24 mukasurat komik dalam tempoh 24 jam yang diperuntukkan, pengalaman yang saya perolehi banyak mendidik saya untuk mengatur waktu lebih baik dalam menghasilkan karya komik di masa akan datang.

Faktor yang perlu diambil kira dalam memperuntukkan masa ketika melukis komik (24 mukasurat dalam 24 jam) ialah: 

CERITA - perkara paling perlu dalam melukis komik ialah jalan cerita, takder jalan cerita takleh lukis komik. Tidak mengapalah kalau masih belum ada skrip atau jalan cerita yang lengkap, asalkan ada konsep & tema nak bercerita tu pun dah cukup. Saya sudah terfikirkan tema saya sejak semalamnya lagi, iaitu kisah tentang seorang anak yang kembara mencari ibunya (namun konsep cerita sedikit berubah selepas saya hampir selesai melukis & ia sesuatu yang sangat lazim bagi artis yang selalunya tidak ada panduan skrip yang lengkap). Kelemahan saya di peringkat ini ialah saya ada judul (Journey to Mother/Kembara ke Bonda) tetapi tidak ada kerangka jalan cerita yang lengkap, yang mampu mendorong saya untuk terus melukis hingga tamat. Ada disatu peringkat sedang melukis, saya berhenti lama untuk memikirkan apa langkah seterusnya bagi mendapatkan penamat yang sesuai. Ya, di situ saya sudah memakan masa!

PANEL - cara seseorang artis menggaya, menyusun & menetapkan aturcara panel dalam setiap mukasurat memainkan peranan penting bagaimana sesebuah cerita komik dihasilkan. Cara saya ialah menghasilkan dahulu panel di setiap mukasurat sebelum ia dilukis. Walaupun belum faham bagaimana jalan cerita saya nanti (hingga layak menyusun panel pelbagai bentuk di setiap mukasurat), namun ia memang cara-kerja terkini saya untuk penerbitan. Ia menjadikan kerja melukis saya lebih mudah kerana tidak lagi perlu memikirkan soal panel ketika berkarya. Tetapi melukis panel untuk 24 mukasurat ada kelemahannya kepada seseorang pelukis yang cepat bosan, bilamana ia tidak cukup melekakan berbanding melukis. Kegagalan saya di peringkat ini ialah hanya membina panel di 10 mukasurat pertama. Untuk 14 mukasurat yang selanjutnya adalah ketika saya sudah menghampiri waktu-waktu penamat (kira-kira 7-8 jam sebelum detik 12 tengahari).

PENCILING - inilah peringkat yang paling mudah bagi saya. Kerana mungkin di sinilah kecenderungan paling asas saya dalam melukis komik. Melukis dengan pensil adalah saat yang paling bebas bagi seorang pelukis komik kerana di waktu inilah keyakinan melakar berada di tahap paling tinggi. Melakar di setiap panel yang sudah tersedia ni seperti menulis nota ringkas yang lengkap, bila idea semakin mencurah-curah maka makin laju & padat hasilnya. Namun apabila idea kering, masa itulah apa yang hendak dilukis pun jadi buntu. Jadi diperingkat ini, seharusnya konsep cerita sudah lengkap bagi menjadikan proses ini berjalan lebih lancar & pantas. 

INKING/COLORING - tiada peringkat lebih rumit dalam melukis komik secara manual kecuali proses meletakkan dakwat/warna kekal. Ia mungkin kerja yang nampak mudah tetapi inilah peringkat yang paling memakan masa. Bagi seseorang artis komik, mungkin inilah peringkat yang dirasakan lebih tenang, seronok & khusyuk. Kerana bila tiba pada jalan kerja yang melibatkan ketelitian, itulah faktor paling sempurna buat pelukis yang mementingkan kesenian dalam setiap kerja komiknya. Kesilapan saya di peringkat ini ialah memulakan titik pertama melukis dakwat dengan garis kemas, jauh menyimpang dari perancangan awal saya untuk menghasilkan inking sempoi tanpa terjerat oleh ketelitian yang asyik. Bila sudah bermula dengan ketelitian maka saya perlu juga berakhir sedemikian, atau hasil karya komik saya akan nampak pincang; seolah saya tidak berkepribadian tetap dalam melukis. Saya tidak mahu begitu! Maka dengan rasminya saya telah mencabar diri untuk menyiapkan komik dengan kualiti separa-maksimas dalam tempoh 24 jam.

STAIL - Ya... faktor stail juga memainkan peranan dalam menentukan masa cepat atau lambatnya seseorang itu melukis. Stail yang lebih bebas (seperti kartun sempoi) akan menjadikan kerja lebih cepat, apatah lagi stail itu adalah stail yang memang dah biasa mahir tanpa perlu banyak melukiskan ketelitian-ketelitian terperinci seperti banyak bermain dengan sudut-sudut halus. Lebih sempoi cara melukis, lagi cepat hasil kerja dapat diselesaikan. Bercakap soal bakat, semua orang ada bakat; semua peserta boleh lukis sempoi. Perancangan awal saya memang nak lukis sempoi seperti yang selalu saya buat bila melukis untuk autograf (terus guna inking tanpa ada penciling). Tetapi saya dah janji pada diri sendiri, nak masuk program ni sebab nak uji sejauh mana saya boleh melukis dengan kualiti produksi dalam tempoh 24 jam. Inilah hasilnya....
 

Saya berjaya menyiapkan penciling sebanyak 20 mukasurat dalam tempoh kurang 24 jam, satu pencapaian yang saya sendiri tidak jangka. Jadi pasni, saya patut sudah boleh peruntukan masa 3-4 hari (paling lewat seminggu) untuk siapkan 24 mukasurat komik (termasuk inking!), ia bukan lagi alasan saya tidak mampu tetapi memang alasan saya tidak mahu ( kerana ada waktunya  saya kena komited dengan pengajian MBA di UIA)! Tapi tidak mustahil selepas ini saya boleh buat penciling in between study... it seems so fun! ^_^

Saiz atau bentuk medium yang digunakan untuk melukis komik tidak boleh dijadikan alasan kenapa seseorang pelukis itu tidak dapat menyiapkan 24 mukasurat dalam tempoh 24 jam. Ini kerana rata-rata peserta yang berjaya menghantar hasil kerja mereka terdiri dari pelbagai saiz & medium melukis. Ada diantaranya yang melukis dengan saiz A5, namun masih diantaranya lewat siap, lebih lewat daripada mereka yang menyiapkan karya dalam saiz A4 (berwarna lagi!). Malah ada yang siap dengan saiz 25.5 cm x 22.5 cm (the youngest, Haidar) & ada yang siap dengan komik dalam bentuk kiub (4 kiub x 6 komik di setiap permukaan kiub, a lecturer & a PhD holder... Mr. Firdaus!). Paling penting, ramai berpendapat membuat kerja komik dengan hasil digital akan lebih cepat namun itu adalah tanggapan yang salah. Majoriti yang meyiapkan 24 mukasurat dalam tempoh 24 jam adalah yang bekerja secara manual manakala sebahagian kecil adalah kerja digital (& bukan yang paling awal siap). Seterusnya, faktor usia bukan alasan kerja jadi lambat kerana salah seorang daripada peserta terawal siap adalah seorang wanita berusia lingkungan 40-an yang kami panggil 'Mama', manakala yang siap tepat pada waktunya (detik 12 tengahari) ialah peserta paling muda berusia 12 tahun, Haidar. Namun yang paling awal & yang pertama siap ialah a loving young couple, Dilla Ismail & Amir Ash.

"Love really conquers the time well... !"

Kesimpulannya, semua peserta boleh siapkan 24 mukasurat komik dalam tempoh 24 jam tidak kira apa pun jenis atau saiz medium yang digunakan (termasuk saiz A3), asalkan setiap peserta bijak memainkan peranan masa kepada semua faktor yang telah disebutkan; cerita, panel, penciling & inking/coloring. Sebarang faktor tambahan lain, ia akan menjadi kelebihan bagi mempercepatkan lagi cara kerja (seperti faktor psikologi & kesihatan).

Kepada yang dapat siapkan komik 24 mukasurat dalam tempoh 24 jam tu, korang memang smartan (another kind of Spartan). Namun kepada yang tidak berjaya, it doesn't mean you're not smart... you're just being a rookie! That's included me... Hehe~

Tuesday, September 18, 2012

TEKNIK MEWARNA DIGITAL: SKIN TONE & SHADOW

Subjek: NIZAM ASARI (Character board: 100% GEMPAK STARZ '09)
Perisian: Adobe Photoshop CS2
Scanning hardware: CanoScan LiDE 100
Scan (image) resolution: 1200 dpi (pixel/inch)



Warna yang digunakan:

Kulit: Pastel Magenta Red (R: 245, G: 180, B: 169)
Pembayang: Pale Cool Brown (R: 223, G: 198, B: 164)

Teknik toning pembayang yang digunakan:

Eraser (E)
Brush Preset Picker: Soft Mechanical (saiz piksel bergantung ketelitian)
Mode: Brush
Opacity: 100%
Flow: 100%

Dodge Tool (D)
Brush Preset Picker: Soft Mechanincal (saiz piksel bergantung ketelitian)
Range: Shadows
Exposure: 100%

Monday, September 17, 2012

TERCIPTA DARIPADA EKONOMI: SENZE

'Ekonomi Perniagaan' (Business Economics/ECON 6120) adalah salah satu subjek yang perlu saya lalui di semestar pertama pengajian Master of Business Administrations/MBA di Universiti Islam Antarabangsa (UIA). Bagi saya ia subjek yang memerlukan pemerhatian yang penuh, khusus, intensif & jika tidak, ia agak sukar untuk dikuasai. Paling penting kena berseronok mempelajari pengiraan (berformula @ matematik tambahan), diagram & graf yang diselitkan dalam subjek ini.
 
Walaupun pensyarahnya, Dr. Noorihsan cukup berkesan dalam menawarkan ilmu, saya sebaliknya yang ketika itu tertekan dengan kesempitan kewangan hanya boleh menumpukan pada sudut mana yang mudah bagi saya, selebihnya saya bertawakal sahajalah. Syukur alhamdulillah, saya lulus (walaupun tidak cemerlang) & terpaksa menggugurkan subjek ekonomi di semestar kedua (untuk ditunda ke semestar akan datang) demi menumpukan lebih perhatian kepada subjek yang boleh saya dahulukan iaitu subjek utama kursus (kewangan) serta subjek yang mampu saya kuasai (pengurusan).

Menjalani pengajian Master tidak seperti ambil Ijazah atau Diploma yang majoriti pemarkahan adalah daripada kerja individu. Lain bila buat Master, hampir 50% daripada pemarkahan individu kita terletak di dalam kerja berkumpulan & selebihnya peperiksaan akhir (secara individu). Jadi memandangkan semestar pertama merupakan semestar pengenalan buat saya (yang sudah lebih 10 tahun meninggalkan zaman persekolahan/universiti), banyak perkara yang terasa asing apatah lagi jurusan yang diambil jauh menyimpang daripada jurusan asal yakni sains. Namun sesulit manapun ia, kena tabah juga melalui kerana peluang yang sama hanya datang sekali & peluang kedua mungkin tidak akan sama (bersyukurlah kalau ia datang lebih baik, namun kesal seumur hidup jika tidak).

Jadi hendak dipendekkan cerita, salah satu kerja berkumpulan kami dalam kelas ECON 6120 ini ialah menghasilkan sebuah produk kegunaan harian, mampu dibeli oleh semua peringkat tangga gaji & bersifat komersil. Paling penting ia mestilah bukan produk klise yang tidak stereotaip namun berpotensi menjana keuntungan (dari perspektif ekonomi) dengan sambutan komersil.
 
Hasil perbincangan saya (sebagai ketua) serta rakan-rakan sekumpulan (Salleh, Atikah, Ila, Sham & Sireerat Santisart) disertai hasil pandangan Dr. Noorihsan, kami sepakat (dari 6 idea yang dibentang) untuk menghasilkan sebuah jam penggera yang tidak menggunakan bunyi sebaliknya bau dengan tambahan fungsi gelang penggetar & cahaya. Kertas kerja disiapkan oleh setiap ahli kumpulan & tanggungjawab saya ia menghasilkan rekaannya serta membuat penyuntingan terakhir hasil projek (kertas kerja & pembentangan). 

Ini adalah draf jam penggera yang saya lakar secara kasar ketika di meja perbincangan awal. Di rekaan asal kami bersetuju meletakkan fungsi cahaya, namun saya tidak bersetuju memandangkan ia bakal meningkatkan kos pembikinan & pada pendapat saya ia melihatkan seolah produk itu sengaja melebih-lebih dalam menarik pembeli apabila 2 fungsi asal (bau & gelang penggetar) sudah cukup efisyen. Ahli kumpulan akhirnya sepakat untuk menerima usulan saya. Thanks mates! ^_^ 

Sebelum menghasilkan rekaan sebenar jam tersebut, kami sekumpulan telah membuat tinjauan awal di laman sesawang kalau sudah ada rekaan jam berkonsep seumpamanya & menyangka idea kami memang 100% tulen. Tetapi semasa hendak melukis konsep dengan membuat tinjaun semula (untuk mendapatkan rujukan rekaan yang sesuai), saya terkesima menjumpai idea yang sama melalui Osim Nioi oleh Alfie Lake & Wake n'Bacon oleh Matty Sallin. Di saat terakhir, ia merupakan rahmat kerana dengan penemuan ini saya sudah dapat menilai konsep sesuai bagi rekaan jam seumpamanya.
 
p/s: Rekaan saya lebih dipengaruhi oleh konsep Osim Nioi yang dirasakan lebih strategik sebagai jam penggera (tanpa perlu jadi seperti toaster).

Seterusnya saya mula pertingkatkan kualiti rekaan produk dengan memberikannya imej warna yang sesuai. Peringkat ini penting untuk aktiviti pemasaran kerana warna memainkan peranan penting dalam menjana nilai komersilnya. Sebagai produk baru, kita perlu menilai warna yang sesuai untuk mengurangkan pertikaian kehendak pelanggan. Tetapi untuk pembentangan kertas kerja, saya perlu mempamerkan rekaan yang mampu memikat pesnyarah kami, Dr. Noorihsan & para pelabur (rakan sekelas yang dilantik oleh Dr. Noorihsan).

Inilah hasilnya! Sebuah rekaan produk jam penggera yang hanya menggunakan sistem bau yang dipasarkan dalam 4 warna berbeza mengikut kesesuaian citarasa. Jenamanya, 'Senze' tidak semena-mena menjelma di idea masa membuat suntingan terakhir kertas kerja untuk pembentangan kami (kalau tidak, kekal 'MBA|Economy... :P). Hasilnya kami dapat markah 14/15 untuk projek ini. Syukur alhamdulillah...! ^_^

Sebagai tambahan, saya juga membantu rakan sekelas dari kumpulan lain untuk melakar konsep produk rekaan mereka. Ini hasilnya:

Ia adalah sebuah sudut kerja mudah-alih (portable office station).
Pembelajaran jadi lebih seronok kalau kita dapat selaraskan minat, kecenderungan & bakat kita ke dalam pendidikan yang sedang kita jalani. Yang penting, bukan hanya kita yang mendapat manfaatnya, kawan-kawan juga... itulah kepentingannya jadi Master. Muahaha~

Wednesday, June 20, 2012

BUSINESS SCHOLAR INSTEAD OF ART?

The fact is if other people are being genius in their own field, I’m practically genius (so called I quoted) in my own field; drawing. I don’t have to hold a diploma, a degree, a master or even a PhD to become an expert in art. I can read through abstract & I’m very much confident I can surpass everyone’s thought just by looking a stroke of color by a simple brush. So art is my confident & it has become my life. Therefore to further my study in art is nothing more than just wasting my time. Because I know I’ll be an easy scorer if I further my master in arts, that won’t be challenging & it’ll be boring for me.

Honest to myself, I admit I have the natural talent in art. I don’t have intention to further my study in any course of art though I believe I could. With just a little lesson from everyday life, it will developed skill of my art by an extra mile.

I was not a flying-colors-student of Diploma in Science (2004-2007) & Degree (Hons.) in Furniture Technology (2007-2009) from UiTM, because my basic interest for career is art in comic. More else when I was at primary & secondary schools, my plan was never to get high grades but only to challenge myself with the high grade students. So if my plan faltered, I would just smile & had no regret because my plan was never to be a scorer in the education fields. All I ever planned since I was little was to be an artist, specialty in making comic; writing to drawing.

I never plan to be a part of any medical or science team, so why I furthered into Diploma in Science? I never even plan to open my own furniture factory, so why I graduated from Degree (Hons.) in Furniture Technology? And the biggest question is why after I’ve achieved the most promising status in the Malaysia Comic Industry, but I ended up furthering my study in Master of Business Administration at IIUM?

My decision to further my master in business administration at International Islamic University of Malaysia/IIUM has come long before I begin my professional career in Malaysia Comic Industry. Studying at IIUM has been my dream after SPM but because of no Arabic language proficiency plus not credit in Bahasa Malaysia, I was instead accepted to UiTM doing Pre-Science. Then, venturing into business has been forever attached with my dream to become a professional comic artist. So by right, I never really change my course in decision making for my own life since little.



Trust me that I won't be leaving Malaysia Comic Industry, but I hope with the knowledge of MBA, I can propose an inspiration to our upcoming talents that...

To be in an industry, it's all about running business either individually or as a firm to help yourself & others too.  

Wednesday, June 6, 2012

SAINS, SENI DAN... MBA



Mencari Bayangan Abadi...
Kita semua ada waktunya akan berada di titik lemah dalam kehidupan. Titik di mana harapan tidak lagi menggunung, impian bagaikan terlalu jauh untuk digapai dan hidup terasa sempit walau jelas keluasannya. Ketika itu Tuhan kurniakan cinta dan segalanya kembali bersemangat. Namun di era moden, cinta bukan lagi gagasan keyakinan kerana manusia sudah banyak terdedah kepada komplikasi jiwa yang mendorong kepada wujudnya pelbagai penyakit psikologi dan sekaligus pelbagai perlakuan jenayah. Malah keyakinan manusia terhadap Tuhan juga tidak lagi berteraskan hati sebaliknya akal, apatah lagi untuk sedar menghargai anugerah-Nya (yang tidak dapat dilihat namun dapat dirasa). Manusia kini majoritinya lebih terdorong keyakinan kepada apa yang nyata untuk dilihat termasuk dunia maya dan menyokong pada yang mana lebih berpihak kepada kepentingannya.

Mengenal Bahasa Azali...
Ada jenis manusia sebaliknya, batin berbeza namun zahirnya sama seperti orang lain. Pemikirannya lebih banyak terdorong oleh hati dan dikawal oleh pengalaman yang tersisa di diri sendiri dan manusia sekeliling. Ada cinta dan ada kemampuan untuk menghargainya namun tidak dapat disempurnakan sebaiknya di kelompok manusia moden kini, lalu diterapkan perasaan itu di dalam karya-karya seni melalui bakat yang ada. Ini caranya memahami sains kehidupan dari sudut kesenian dalam membentuk kemahiran pemahaman melalui pengalaman. Sukar untuk difahami oleh pemikiran biasa, apatah lagi untuk ditelusi oleh jiwa yang berkelana.

Menelusi Bisnes Aspirasi...
Asas kemanusiaan terbentuk dalam perkongsian aspirasi memberi dan menerima. Selain ia terbina dengan cara memberi sedekah atau derma dalam menerima tuntutan pahala, perkongsian tersebut juga terbentuk dalam konsep perniagaan; yang memberi jelas akan menerima mengikut tuntutan nilai yang dipersetujui bersama. Jika dalam beragama pun kita dinilai dengan dosa dan pahala mengikut landasan mana yang haram dan halal, begitulah asas kemanusiaan yang hidup di muka bumi ini. Tiada yang percuma dalam memberi ilmu kerana yang mengajar juga perlu hidup dalam perniagaan duniawi untuk menerima pahala demi hakiki. Manakala yang menerima ilmu hari ini bakal memberi kelak, tidak boleh tidak... atau bakal tersandung dalam ketamakan inginkan kebebasan tanpa bertanggung-jawab.



Hidup ini mahu atau tidak, harus diperakui adalah satu konsep sains perniagaan yang berseni -- perbezaannya nilai aset, liabiliti dan ekuiti yang digunakan dalam perdagangan demi mengaut keuntungan. Keseimbangannya dunia dan akhirat dalam mengenal erti untung-rugi kehidupan dengan...

Memahami Budaya Antarabangsa. 

"Businesses may come and go, but religion will last forever, for in no other endeavor does the consumer blame himself for product failure" 
-- The Harvard Lampoon

Wednesday, March 21, 2012

CINTA BIPOLAR

Dia bilang aku penderita...
Menolak takdir yang datang bahagia,
Meminggir cinta yang hadir sempurna,
Membatu perasaanku padamu yang seringkali ada.

Lisa termangu di ruang tamu, melontar renungan keluar jendela melihat langit senja yang kian memudar. Perut semakin terasa membara. Segala pergerakan dirasakan bagai tidak selesa. Lalu segera itu dia memejamkan mata dan membayangkan Amar datang kepadanya. 

"Sayang, awak rindukan saya tak?" Wajah tampan Amar menghampiri wajahnya. 

"Sangat rindu... " Balas Lisa dengan penuh rasa kecintaan. 

Senyuman dan kemesraan Amar membuatkan Lisa sedar betapa dia amat mencintai lelaki ini. Tiada apa yang mampu membuatkan dia lebih sihat kecuali Amar. Acapkali bersama Amar biarpun dalam mimpi, segala kesakitannya hilang tidak semena-mena. Dia membayangkan mereka bersama riang ketawa meredah denai menjaring rama-rama, seiring meniti jambatan melihat sungai mengalir dan bermain buaian sambil berbual tentang dunia. Adakalanya mereka bertengkar juga, namun itu semua membuatkan mereka lebih mesra.

"Allah hu akbar! Allah hu akbar!"

Segera itu mata Lisa terbuka. Tersedar dari lamunan. Maghrib memanggilnya solat. Dalam kepayahan derita sakitnya yang menyucuk-nyucuk perut, digagahkan juga diri menunaikan kewajipan kepada Ilahi. Namun selesai solat, berat untuk dia terus gagah berzikir di tikar sejadah, lalu mengesotkan diri ke sofa dan menatap keluar jendela lagi. Di luar sana, hari sudah gelap. 

Dia buat aku derita...
Menolak aku takdir yang berbahagia,
Meminggir cinta sempurnaku kepadanya,
Membatu kepada cairnya perasaanku yang ada.

Lisa menyesal kerana menolak kehadiran cinta Amar beberapa tahun yang lalu. Bukan dia tidak mahukan Amar, sangat mahu. Namun pemikirannya tidak seperti insan lain. Dia sentiasa mampu membuat konklusi sebelum melaluinya. Baginya, untuk setiap perhubungan pasti terarah kepada perpisahan. 

Kerana itu pemikiran Lisa, maka tidak dinafikan setiap perpisahan yang dilalui pasti dihadapinya dengan tenang. Apatah lagi kematian insan yang paling dicintainya dalam hidup. Kerana Lisa tahu, itu hakikat kehidupan. Namun Lisa juga keliru mengapa saat perginya insan tercinta, hadir cinta baru di hatinya? Adakah ini tanda kebahagiaan baru bermula buatnya atau ujian lagi?

"Kita semua melalui banyak perpisahan, Lisa. Saya juga. Namun itu tidak bermakna kita harus berhenti memberi peluang." Kata Amar suatu ketika dahulu. 

Teringatkan kata-kata Amar itu, menitis air mata Lisa di saat ini. Sedikit membenamkan sakit di perutnya. Namun itu tidak langsung menyihatkannya terus. Pedih masih terus menyucuk di ulu perutnya. 

"Ya Tuhan... aku mohon ampun kerana telah melalaikan kurniaan-Mu dahulu. Aku mengerti betapa hanya dia mampu mengubati sakitku ini. Seperti janjimu, setiap di dunia ada pasangannya; setiap insan ada jodohnya, setiap penyakit ada ubatnya."

Saat itu Lisa lantas menutup matanya dan membayangkan Amar datang kepadanya dalam senyum mesra. Dalam lena, segalanya tampak begitu nyata. Amar membawanya keluar bersiar-siar lagi. Berbicara tentang masa depan, tentang kelmarin dan juga hari ini.

"Ada waktunya kita tidak semestinya memaksa diri untuk tidak percaya, ya benar?" Amar bertanya. 

Lisa tersenyum dan mengangguk. 

"Ada waktunya... mungkin orang lain bilang, cinta kita hanya leka dunia. Tapi ada hikmah di sebaliknya, ya benar?" Tanya Amar lagi. 

Lisa tersenyum dan mengangguk lagi. 

"Kalau kita terus begini, menerima seadanya, tanpa memikirkan kemungkinan yang bakal terjadi di masa hadapan, pasti kita dapat meraih impian kita semudah bercerita." Ujar Amar sambil menghela nafas selesa. 

Lisa pandang Amar dengan rasa cinta yang amat mendalam. Mengusap rambut jejaka itu semahunya lalu berkata "Sayang... "

"Allah hu akbar! Allah hu akbar!"

Takbir buat Ilahi memanggil lagi. Lisa tersadar dari lena. Perutnya semakin menjadi-jadi berbisa. Tidak tahu bagaimana lagi mahu dibuat. Sudah tiga hari begini. Suhu badan juga semakin tidak menentu dibuatnya. Urat di kepala semakin menyucuk-yucuk berdenyut. Degupan jantungnya juga semakin laju berdegup. Segera dia bangkit mengambil wuduk dan menunaikan solat Isyak. 


Usai solat, Lisa langsung ke kamar tidur. Tidak sanggup lagi berjaga dalam derita ini. Doanya semoga esok dia akan bangkit lebih sihat. Cukuplah dengan masalah psikologinya yang mampu memberi banyak ketidakpastian kepada kondisi mentalnya, tidak hingga menyentuh soal kesihatan organ tubuh yang lain.

"Bantulah aku ya Allah, berikan aku tidur yang lena. Ampunkan segala dosaku dan bangkitkan aku dalam sihat yang sempurna. Aamiin..."

Itu doa Lisa sebelum masuk tidur. Namun sebelum mata terlelap, dia segera mencapai telefon bimbitnya dan menelefon Amar. 

"Assalammualaikum... Amar." 

"Wa'alaikum'salam. Sayang... awak ok ke?"

"Ok... esok kita jumpa lagi ya."

"Pasti sayang, seperti selalunya... "

Setelah itu, Lisa pun menutup mata untuk tidak terbuka lagi. 

Aku dan dia sama-sama derita...
Menolak takdir bahagia buat kami berdua,
Meminggir cinta sempurna kami seadanya,
Sama-sama membatu kepada yang sedia ada.

Amar sedar ada yang tidak kena dengan Lisa. Namun dia tidak pantas bertanyakan khabar kerana selama bertahun ini pun Lisa tidak pernah menghubunginya kecuali atas urusan penting. Namun mendengar berita Lisa sudah kembali ke rahmatullah ketika tidurnya, ternyata berita yang sangat mengejutkan. Amar tidak mampu berkata apa kecuali meminta ampun kepada Allah. Dia tahu masalah psikologi Lisa, namun dia masih tidak mahir bagaimana untuk menanganinya. Seorang teman yang begitu rapat dengan Lisa menghubungi dan memberikan khabar sedih itu. Mereka bertemu di hari pengkebumian. 

"Dia takder telefon awak ke? Beritahu apa masalah dia?" Tanya Aliya, sahabat arwah.

"Tidak... kami sudah lama tidak berhubung. Kali terakhir pun beberapa bulan yang lalu, ketika dia menjemput saya ke majlis reunion teman-teman sekuliah." Jawab Amar dalam redha yang sebal. 

"Itulah Lisa... tidak pernah mengadu segala keperitannya kepada sesiapa. Dia sentiasa ada jalan penyelesaiannya sendiri. Biarpun ia membawa maut... " Ujar Aliya terhambur kesal dalam sebak yang mengasak dada. 

Amar hanya mampu menahan sebak tatkala airmatanya terus mengalir di pipi. Kubur Lisa masih merah tanahnya. Masih wangi dengan taburan bunga di atas pusara. Namun apakan daya, dia kini hidup membawa derita yang ada sedangkan Lisa sudah pergi membawa bahagianya... 

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

... atau mungkin ada bahagia baru buatnya. Hanya perlu belajar menerima selagi ada nyawa.