"It's only through writing that I've ever been able to suppress life's personal disappointments. When I can't write I feel anxious and out of sorts and am easily riled, though I'm usually able to control my emotions..."
- Pramoedya Ananta Toer (The Mute's Soliloquy: A Memoir)
["Hanya dengan menulis aku mampu menekan segala kekecewaan peribadi hidup. Bila aku tidak menulis, aku merasa cemas & tidak keruan serta mudah gusar, walau selalunya aku bisa mengawal emosiku..."]
Showing posts with label JUMAAT 13. Show all posts
Showing posts with label JUMAAT 13. Show all posts

Sunday, July 18, 2010

JUMAAT 13: Art inspired by 'Book of Blood'


"Well, if we close our mind to possibilities, we'd never make any progress, would we? In this business, we have to start from a place of faith."

— Prof. Mary Florescu (Book of Blood)

Saturday, November 7, 2009

JUMAAT 13: PROMO 01

Ustaz Faiz menatap setiap dari mereka satu per satu. Dari yang tua hinggalah yang bayi. Melihatkan mereka, dia insaf. Mereka ini roh yang terseksa. Jiwa meronta, inginkan keadilan. Tiba-tiba Ustaz Faiz menitiskan air mata kesedihan. Matanya kini tepat memandang ke arah makhluk berjasad yang memanggil dirinya, Toku Walong.

“Maafkan kami... dengan izin Allah, aku akan tegakkan kebenaran ini untuk kamu semua,” ujar Ustaz Faiz. Suaranya sayup kedengaran di balik jeritan yang semakin nyaring.

Tapi tiba-tiba jeritan itu terhenti. Pengakuan Ustaz Faiz mengubah suasana. Toku Walong memandang tepat ke arah Ustaz Faiz. Johan dan Hajimi kebingungan. Apa yang sudah berlaku? Apa yang Ustaz Faiz sudah katakan? Irman yang tadinya bangkit menjerit kini kembali rebah terkulai di lantai.

“Kau aku percayai... kembalikan tanah kami. Kembalikan kehormatan kami. Kembalikan....,” ujar Toku Walong dalam nada garau yang masih keras.

“Aku akan kembalikan keadilan,” balas Ustaz Faiz dalam nada kesedihan. Matanya tertoleh kepada roh si ibu yang sedang mendukung anaknya yang masih bayi. Anak itu tidak bersalah, fikirnya. Kejam sungguh pengusaha pembangunan Taman Cempaka.